Bucal Sawan – Membuang “Sawan”

Sore ini tergelitik dengan istilah “bucal sawan” dari seorang teman di percakapan WhatsApp Group (WAG). Teman ini akan “mandi besar” dengan tujuan untuk “bucal sawan” dikarenakan sebelumnya melakukan perjalanan dari daerah Zona Merah (area/ daerah yang masih terpapar wabah Covid19).

Bagi orang jawa, hampir semua orang mengerti istilah “bucal sawan“, apalagi keluarga muda yang akan atau baru memiliki bayi. Orang tua biasanya sering memberikan nasehat atau pantangan agar tidak melakukan ini-itu supaya tidak terkena “sawan“. Misal, ketika seorang wanita yang sedang hamil disarankan membawa guntingan kuku kecil yang selalu ada di kantong saku agar tidak terkena sawan, tidak boleh makan di tengah-tengah pintu, tidak boleh makan durian dan mangga kweni, dll.

Apabila dicermati mendalami, artian “sawan” bisa dapat diartikan secara rasional (logika, medis) maupun secara irrasional (tidak masuk akal, mitos). Lebih jauh, meski ke arah mitos dan irrasional namun ajaran yang dikandung sangat luhur, contohnya membawa guntingan kuku bagi Ibu hamil, makna terkandung adalah selalu menjaga kebersihan tangan. Seorang Ibu hamil adalah manusia dengan dua nyawa dalam satu raga. Apabila si Ibu sakit (dikarenakan kurang menjaga kebersihan tangan, akibat makan sembarangan), si jabang bayi yang dikandung juga akan merasakan sakit juga. Padahal jika dari sisi medis, sawan ini bisa dapat diartikan sebagai virus atau kuman.

Apabila dikaji secara medis wanita hamil tidak boleh makan durian dan kweni karena kedua buah ini mengandung gas. Hal ini bisa menyebabkan panas, yang dapat berdampak kurang baik bagi si jabang bayi.

Begitulah orang jawa dahulu membuatkan istilah yang sederhana namun memiliki arti yang mendalam. Hal ini agar semua dapat melaksanakan tanpa ada tawaran (reverse). Cukup dengan istilah “sawan” sudah mencakup keseluruhan hal-hal yang menjadi pantangan agar tidak dilakukan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *